Minggu, 04 Oktober 2015

perjuangan, pengorbanan dan ikhlas



Kisah seorang gadis muda berusia 22 tahun, dia akrab dipanggil tia’ oleh sebagian besar teman-temannya, sekarang lagi kuliah semester tujuh di sebuah universitas di Yogyakarta, UIN SUNAN KALIJAGA namanya. Untuk mencapai semester 7 diharus berjuang untuk membiayai sendiri kuliah maupun kehidupannya, itusemua dia lakukan karena dia tidak mau menyusahkan kedua orang tuanya, disisi lain juga kedua orang tuanya sudah usia lanjut, kedua orang tuanya pun hanya berfrofesi sebagai penjual. Ibunya sebagai penjual sayur-sayuran keliling, dan ayahnya sebagai penjual pentol/ bakso keliling di sekolah-sekolah. Tia adalah 6 bersaudara, tapi yang masih sekolah hanya 1 adik laki-lakinya, dia bernama jukik, kelas XIII di MAN 1 praya. Adiknya inilah yang merupakan salah satu factor juga kenapa dia harus mencari uang sendiri untuk biaya kuliah, sebab, adiknya masih butuh uang untuk bayar SPP dan sebagainya. Suatu ketika si adiknya berkeinginan untuk mondok disekolahnya, akhirnya dia mondok dan harusmembayar uang pondok. Semua proses administrasi pondok sudah diselesaikan, namun setiap bulan adiknya harus membayar uang pondok sebesar Rp350.000. waktu terus berganti, tanpa disadari adiknya sudah 2 bulan di pondok namun, belum melunasi uang bulanan. Akhirnya keadaan tersebut diketahui oleh tia’. Dengan perjuangan yang begitu besar, tia’ untuk sementara mencari pinjaman kesana kemari dan akhirnya dapat. Uangtersebut langsung di transfer melalui rekening keluarga disana. Keadaan seperti itu membuat ukik untuk memutuskan tidak dipondok pesantren lagi, dan pulang pergi seperti biasanya.
            Kejadian tersebut terjadi bertepatan dengan masa-masa PPL-KKN Integratif yang sedang tia’ jalani. Kegiatan tersebut tentu membutuhkan uang yang banyak untuk proses pelaksanaannya. Lebih-lebih karena tempatnya yang jauh dari kos dan kampus, dia harusngontrak bersama teman-teman PPL-KKN disana. Hal tersebut merupakan masa-masa yang menyulitkan bagi tia’, selain memikirkan adiknya, kosnya juga yang sudah habis masa tenggang juga harus memikirkan biaya untuk kenaikan semester pada waktu dekat ini. Meskipun demikian dia tidak putus asa, karena dia selalu ingat bahwa masih ada yang maha kaya tempat mengadu dan meminta pertolongan. 1 minggu kegiatan PPL-KKN pun dimulai, semua anggota harus membayar iuran untuk makan sekaligus uang kontrakan, sejumlah Rp.400.000. tapi untuk saat ini tia’ masih mempunyai uang simpanan di ATM yang beberapa bulan yang lalu di transferkan sejumlah Rp. 500.000 oleh orang tuanya. Seiring berjalannya waktu, kegiatan PPL-KKN tak terasa sudah mau mencapai umur satu bulan, kegiatan tersebut bertepatan dengan bulan puasa, sehingga ketika sudah di penghujung idul fitri/lebaran, semua teman-teman sekelompok PPL-KKN telah berencana untuk pulang ke rumahnya masing-masing, kecuali tia yang tak mungkin bisa pulang kerumahnya, karena sebrang lautan dan tak punya uang tentunya untuk bolak balik dari jogja kelombok. Sebenarnya tia’ merasakan kesedihan dan sesak, karena bagaimana pun setiap orang pasti menginginkan bisa kumpul idul fitri bersama keluarga tercinta, namun apalah daya dia tak mampu. Ditengah kesedihannya itu, tiba-tiba ada seorang yang menelpon, ternyata itu adalah sosok seorang perempuan yang selalu membantu dan menganggap tia’ layaknya saudara kandung. Dia adalah kak fifit, berasal dari Lombok timur, namun dia juga masih keturunan orang jawa, campuran antara Lombok dan jawa. Saat itu dia menelpon tia’ dan mengajaknya untuk pergi idul fitri ke tempat nenek beserta keluarganya di jember. Awalnya tia’ menolak karena merasa gak enak juga, tapi karena desakan dan ketulusan kak fifit ini akhirnya tia’ meng iyakan ajakan kak fifit. Akhirnya tia’ bisa juga merayakan idul fitri tanpa kesendirian, meskipun bukan keluarga sendiri, namun keluarganya kak fifit, yang sama sekali dia juga belum kenal. Sedikit kekhawatiran muncul di benaknya, namun hal itu dia abaikan saja, karena dia yakin, pasti keluarganya kak fifit baik sebaik kak fifit.
            Hari H keberangkatan ke jember pun sudah tiba, segala yang dibutuhkan termasuk tiket sudah diatur oleh kak fifit, tinggal berangkat saja. Kala itu tia’ masih berada di lokasi PPL-KKN, sedangkan kak fifit di kosnya, jaraknya membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Tia’ pun bersama tema-teman PPL-KKN meninggalkan lokasi, masing-masing pulang ke rumahnya masing-masing dengan wajah ceria dan penuh senyuman, sedangkan tia masih dalam keadaan wajah yang ngambang selayak sedang memikirkan sesuatu. Tia’pun pulang kekosnya kak fifit. Menunggu hari esok, kak fifit dan tia sudah berkemas-kemas mempersiapkan semua yang sekiranya dibutuhkan untuk keberangkatan. Perjalan dari kos menuju stasiun kereta api lumayan jauh, kira-kira 2 km, sehingga membutuhkan motor untuk kesana, akhirnya kak fifit menelpon adiknya untuk mengantar besok pagi, dan tia’ menelpon temannya juga dengan tujuan yang sama. Kata sepakat sudah ada diantara masing-masing pihak.
            Waktu pagi pun tiba, saatnya keberangkatan menuju jember, kota yang baru pertama akan tia’ kunjungi dan tempati sekitar 10hari. Jemputan kak fifit sudah datang, sedangkan teman tia’ masih dihubungi, tapi belum merespon, pikirnya tia’, mungkin temannya lagi mandi. Akhirnya tia’ menyuruh kak fifit untuk jalan terlebih dahulu ke stasiun, dan dia menyusul. Hampir setengah jam berlalu, perasaan pun kian memanas, jantung pun berdetak kencang, pikiran kocar-kacir, hati tak karuan. Posisi kak fifit juga menelpon untuk segera menuju stasiun, karena 10 menit lagi keretaakan jalan. Semua serba panik. Kak fifit dengan nada suara yang panic menambah kepanikan tia’. Kak fifit menyuruh tia’ untuk mencari kendaraan dimana-mana, yang penting bisa nganter, namun tia’ tetap saja menelpon temannya berulang-ulang, tapi tak ada jawaban, ntah mengapa tia’ juga belum tau apa yang terjadi sama temannya. Akhirnya dia berlari kesana kemari meminta bantuan untuk diantarkan, posisi sepertinya kakk fifit juga lagi mondar mandir penuh kebingngan diantara keduanya. 5 menit lagi keberangkatan kereta api akan tiba. Akhirnya tia’ mendapatkan bantuan. Sesampainya disana, dia tak melihat wajah kak fifit Nampak, hatinya merasa kecewa, sedikit murung. Tiba-tiba dibelakangnya ada yang memegang pundaknya. Ternyata dia adalh kak fifit, tanpa disadari tia’ berteriak sekencang-kencangnya sambil memeluk dan mengeluarkan air mata kebahagiaan. Tanpa basa-basi kak fifit langsung menarik tangan tia’ untuk menuju kereta yang sudah mau berangkat. Dengan menarik nafas yang kuat, mereka berdua duduk sambil saling memandang dan tersenyum. sesaat dri mereka saling memandang, Hand phone tia bergetar, ternyata itu adalah sms dari temannya yang pada awalnya berencana untuk mengantarnya. Sekilas percikan sms nya “maaf musti tadi aku ketiduran, tak mendengar suara calling dari mu”. Tia’ pun menjawab “ iya bang ini semua telah diatur oleh allah, karena ini semua adalah rencananya J”.
            Tak terasa sudah memasuki waktu magrib, 20 menit lagi mereka akan sampai ketempat tujuan. Seluruh tubuh mereka terasa pegal. Kendaraan berlalu-lalang, akhirnya mereka sampai ketempat tujuan, mereka disambut dengan penuh senyum kegembiraan, tia’ merasakan keteduhan ada di keluarga tersebut, kak fifit langsung mengajakku ke sebuah ruangan, yang ternyata disitu tempat tidur seorang nenek yang kalau menurut tia’ sudah tua banget, namun memiliki wajah yang bersinar, fisik sehat, dan kuat. Tia’ pun mencium tangannya dan langsung berkenalan. Satu sama lain dikeluarga tersebut sudah mengenal tia. Beberapa hari disana tia merasakan banyak hal yang bisa dia jadikan sebagai pelajaran. Mulai dari cara berkeluarga yang harmonis sampai pada cara memahami makna hidup. Banyak hal yang perlu ditiru ujarnya dalam hati. Selama dia disana, satu hal yang sangat membuatnya tak jub, yakni ketika melihat nenek nya kak fifit yang sangat ahli ibadah, sholat tak pernah ditinggalkan, shalat wajib selalu dikerjakan. Kebanyakan hari-harinya dihabiskan untuk ibadah dan memperbanyak amal shaleh.
            Waktu terus bergulir, rasa bahagia dan senang terpancar dari wajah tia’, bagaimana tidak, karena selama dia disana, dia diperlakukan selayaknya keluarga sendiri. Banyak hal yang belum pernah dilihat dan dirasakan dirumahnya sendiri bisa diarasakan disana. Singkat cerita merekapun kembali pulang ke Yogyakarta, kota istimewa, penuh ilmu dan pelajaran. Tia’ dan kak fifit pun kembali menjalankan aktivitas merekamasing-masing. Tia’ kembali ke lokasi PPL-KKN, sedangkan kak fifit kembali kekosnya.
            Lagi kita kembali menyoroti kehidupan tia’. 3 bulan proses PPL-KKN adalah waktu yang cukup lama, namun tia merasakan waktu sangat cepat berjalan. Dan proses PPL-KKN hanya tinggal menyelesaikan laporan saja. Ketika itu posisi tia’ kosnya sudah masuk pembayaran, namun dia tak punya uang untuk membayar dan melanjutkan kosnya. Untuk sementara dia masih tinggal di lokasi kontrakan PPL-KKN, dan menikmati hari-harinya disana
            Dulu, sebelum melaksanakan kegiatan PPL-KKN, tia’ sempat mengikuti pendaftaran calon guru iqra’ yang diselenggarakan oleh SD Muhammadiyah aspen. Diantara sekitar 100 lebih peserta, yang diterima hanya 50 orang, dan tia’ termasuk beruntung karena bisa lolos seleksi menjadi guru Iqra’. Namun yang menjadi kendala saatini adalah mengajar iqra’ dimulai bertepatan dengan waktu pelaksanaan PPL-KKN. Dia pun mencari solusi. Pada saat itu kebetulan ada seorang temannya yang menyarankan agar diamncaripengganti sementara waktu, sebelum kegiatan PPL-KKN terselesaikan. Dia pun mengikuti saran temannya. Waktu terus berjalan, 5 hari sebelum peserta kegiatan PPL-KKN pulang ketempat masing-masing.tia’ sudah harus ngajar di SD muhammadiyah aspen, berhubung temannya yang menggantikan harus pulang kekampung halamannya, karena dia sudah lulus kuliah. Keadaan seperti itu tentu membuat tia’ panic, di satu sisi dia harus bertanggung jawab sebagai seorang guru untuk mengajarkan anak didiknya, di lain sisi dia juga harus bertanggung jawab di lokasi PPL-KKN.
            Selain jarak yang cukup jauh jugamerupakan kendala yang harusdia selesaikan. Akhirnya dengan tekad bulat, tia’ memutuskan untuk pulang pergi (laju), dari godean ke sapen. Posisi saat itu tia’ tidak punya sepeda motor, hanya punya sepeda ontel. Dengan penuh keyakinan bahwa allah pasti menolong hambanya. Tia’ diberikan kemudahan melalui temannya. Dia dianter pulang pergi untuk hari pertamanya, hari keduapun seperti itu, namun dengan teman yang berbeda. Meminta tolong kepada temannya bukanlah hal yang mudah, karena semua teman-temannya juga memiliki kesibukan masing-masing. Dia harus kesana kemari, mondar mandir mencari bantuan. Pernah satu kali tidak ada temannya yang bisa mengantar, akhirnya dia memilih untuk menggunakan sepeda ontel pribadinya. Bayangkan bagaimana capeknya dia menggayuh sepedanya dengan jarak puluhan km, bayangkan betapa lesu nya tubuhnya, bayangkan bagaimana rupa tubuhnya bercucuran keringat, sungguh kuat dia menghadapi hidup ini, tanpa keluh kesah. Yang terpenting baginya adalah “hidup penuh kebermanfaatan dan tak menyusahkan orang lain, lebih-lebih orang tuanya.”
            Kegiatan PPL-KKN Alhamdulillah telah selesai, sekarang dia bisa mengajar dengan jarak yang sangat dekat. Namun satu yang menjadi kendalanya saat ini adalah dia sudah tidak punya kos, dan tidak ada tempat tinggal. Untuk sementara, dia tinggal secara Nomaden (berpindah-pindah), dari kos temannya yang satu kekos temannya yang lain. Meskipun seperti itu dia selalu mencoba untuk menikmati hari-harinya, namun terkadang dia merasa hatinya berair serasa anak jalanan yang tak tau mau tidur dimana. Meskipun dia punya banyak teman yang baik menerima dia secara terbuka untuk bertempat sementara waktu, tetap saja hatinya berontak dan butuh tempat yang pasti, bukan tempat yang kesana kemari. Tapi hal tersebut tidak mematahkan semangatnya. Diwaktu-waktu kosong tia memanfaatkan waktu untuk mencari uang, selain kegiatannya untuk mengajar di SD, dan TPA,diajuga berusaha mencari uang dengan cara berjualan, yang dijual saat ini adalah buku-buku di waktu pagi, siangnnya menjual es di pinggir jalan, malamnya menjual cemilan sederhana didepan pintu kampus. Pemasukannya bertambah, dan adauntuk beli makan setidaknya. Dia terus berusaha mencari jalan untuk bisa menemukan tempat tinggal, ternyata allah memberikannya petunjuk untuk mengikuti seleksi BEASISWA RUMAH INGGRIS JOGJA (RIJ) yang ada di sapen. Beasiswa tersebut di peruntukkan bagi non mahasiswa, program beasiswanya berupa gratis tempat tinggal selama 6 bulan (4 bulan belajar, 2 bulannya mengajar langsung) dan akan tetap digaji secara professional. Dia pun mencoba untuk mengikuti pendaftaran tersebut yang membutuhkan uang 75.000 untuk registrasi awal. Aku pun telah terdaftar. Sejumlah 200 orang telah mendaftar,ada yang berdomisili dari luar kota dan adapula yang berdomisili dari jogja sendiri. Diantara 200 orang tersebut akan diambil cuman 60 orang saja. Tibalah saatnya seleksi interview, tinggal menunggu pengumuman kelolosan. Hari pengumuman pun tiba, hatiku dag-dig-dug berdetak, sembari menunggu pengumuman, matanya tak sanggup membuka pengumuman tersebut, akhrnya dia minta salah seorang temannya untuk melihatkannya. Dengan rasa penasaran yang amat dalam, dia bersiap siap mendengarkan pemberitahuan dari temannya. Ternyata dia lolos. Wajahnya pun langsung bersujud mengucap syukur kepada yang kuasa, air mata kebahagiaannya bercucuran di pipinya, dia saling berpelukan dengan temannya, dengan perasaan hati yang tak karuan. Lafadz “Alhamdulillah” terdengar lantang dia ucapkan. Dia sekarang sudah merasa tenang, karena selain mendapatkan pembelajaran bahasa inggris secara gratis, dia juga akan mendapat kan tempat tinggal, dan tak nomaden lagi. Sungguh perjuangannya adalah hasil dari jerih payahnya dan do’anya kepada sang kuasa.
            Saat ini dia hanya disibukkan dengan pembuatan tema proposal, meskipun dia sibuk di RIJ, tapi dia ingin juga kuliah selesai secepatnya, dia berujar dengan katabismillah semua pasti akan berjalan dengan baik dan sesuai harapan. “laa tahzan, innallahama’anaa”. waktu terus berjalan, meskipun dia sudah bertekad menyelesaikan skripsi secepatnya dengan menyelesaikan seminar proposal dalam waktu dekat ternyata tidak bisa berjalan secara maximal. pembuatan akhirnya terselesaikan secara tersendat, karena selain kesibukannya di RUMAH INGGRIS JOGJA (RIJ) mengurus pendaftar dan lain sebagainya, dia pun sibuk dengan tanggung jawabnya di sebuah UKM JQH Al-mizan, dan kesibukan lainnya seperti mengajar tahfidz di MTS tempel, privat anak SD bahasa inggris. 


                                                                                                By : Dr.Hj. mustiani           

0 komentar

Posting Komentar