Rabu, 22 Oktober 2014

بِسْــــــــمِ اٌللَّهِ اٌلرَّحْمَنِ اٌلرَّحِيْـــــــــم
Dikisahkan, ada seorang raja yg setiap pergi berburu selalu ditemani oleh seorang sahabat'a yg terkenal dengan ketakwaan dan wirai'a.
Tiap kali raja menemui sesuatu
yg tidak mengenakkan, sahabat'a selalu berkata, “semoga itu baik, insya Allah.”
Kata" ini selalu diulang-ulangi'a pada setiap kejadian yg secara dhahir adalah kejadian buruk.
Pada suatu hari saat sang raja berburu bersama sahabat'a ditemani oleh pengawal'a, jari raja terkena tombak dan terpotong. Darah pun mengucur. Si sahabat berkata, “Semoga itu baik, insya Allah.”
Raja marah dan memerintahkan pengawal'a untuk memenjarakan'a. Saat pengawal ditanya, “Apa yang dikatakan'a saat kalian menutup pintu penjara?” Pengawal menjawab, “Ia hanya mengatakan, ‘Semoga ini baik, insya Allah.”
Suatu ketika saat raja pergi berburu tanpa ditemani oleh sahabat'a, ia tersesat di hutan. Sedangkan di hutan tersebut terdapat suku yg menyembah berhala dan tiap tahun mengorbankan orang kepada berhala'a tersebut.
Raja pun ditangkap oleh suku tersebut.
Namun, saat diperiksa didapati bahwa jari raja tidak lengkap. Mereka pun menolak mengorbankan'a, sebab korban harus dalam kondisi yg sempurna.
Raja lalu dilepas dan ia kembali ke istana'a.
Akhir'a ia menyadari kebenaran ucapan sahabat'a.
Sahabat'a pun dikeluarkan dari penjara.
Raja bertanya, “Ketika engkau mengatakan, ‘Semoga itu baik, insya Allah.’ Saat jariku terpotong, aku menyadari bahwa kebaikan itu adalah aku tidak jadi disembelih untuk berhala karena fisikku tidak sempurna.
Sekarang saat engkau dipenjara, apakah kebaikan itu?”
Ia menjawab, “Andaikata saat itu saya bersamamu, maka mereka akan menyembelih saya sebagai penggantimu.”
***
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”. (QS Al-Baqarah : 216)

0 komentar

Posting Komentar