Senin, 02 Maret 2015

ketika cara keras dibilang tegas

sore itu aku lagi bercanda ria bersama mbk sekamar ku yang paling cantik dan baik menurutku, tiada lain dia adalah mbk D, namun sekilas canda tawa itu terhenti dengan sesosok wanita yang muncul dibalik pintu memanggil namaku,,,,, "mustiiiiii!, Q langsung menoleh sembari melihat sosok wajah yang memanggil", iya mbaaak sahutku, ternyata aku dipanggil untuk melihat kamar mandi yang menurutnya masih kurang bersih setelah aku piket hari minggu kemarin, dengan begitu ringan kaki ku melangkah memenuhi ajakannya, sesampainya aku dilokasi kamar mandi, ternyata aku hanya kena omelan-ocehan dari si mbk yang memanggil ini, aku sebut aja mbk T. kira-kira omelannya seperti ini. lihat bak mandi, masih ada hitamnya,ada putih di sekitarnya, masih ada lumut, dan masih banyak omelannya sembari mengeluarkan otot dimuka dan lehernya, selayak mau menerkam mangsanya, aku hanya menjawab tertegun iya mbk, oke. setelah itu aku langsung membersihkan kembali yang ditunjuk sama mbk T ini, sambil mencuci pakaian, tiba-tiba temanku seperjuangan datang menghampiriku, dia adalah si gadis imut dan penuh perhatian, namnya adalah tari. dia sambil mengelus-elus pundakku sembari berkata"sabar ya musti, udah biasa kok dia seperti itu" dengan ungkaan nadanya yang seperti itu memancing mataku secara spontan berubah menjadi sungai yang mengalir air deras, air mataku sudah tak bisa ditampung lagi, bagaikan hujan badai. sambilku menggosok-gosok pakaianku, ternyata mbk tuek ini kembali nongol dan sok-sok memberi perhatian dan mau membantuku, dengan nadaku yang tersendu-sendu tak jawab "gak usah mbk, aku bisa sendiri kok, karena tak tahan bersamanya disana, aku melangkahkan diri saja untuk balik kekamarku, di kamarku, aku berteriak sepuasnya, namun tak bisa berhenti disitu saja, mbk T itu mencariku dan memanggilku, tapi aku sendiripun tak menyahut, sehingga ada temanku yang masuk kekamar, dan menjelaskan bahwa mbk T hanya tegas, bukan maksud berbuat keras ataupun memarahimu, aku pun menjawan "iya gakpapa, lagian aku juga hanya sedih jika dimarahin seperti itu, aku lebih baik di ajari secara halus dari pada kasar dan sambil emosian kayak gitu. akhirnya temanku kembali untuk balik kekamarnya. kisahnya tak berhenti sampai disini, akupun memutuskan untuk pergi kemasjid kampus untuk menentramkan hati dan pikiran, sekaligus mengikuti kajian tafsir dari pak waryono, yang super dalam memberi penjelasan.  

0 komentar

Posting Komentar